Disebuah padang, satu keluarga burung pipit bersarang disebatang pohon besar dan rindang. Pohon itu adalah pohon yang menghasilkan sejenis biji bersayap yang akan melepaskan dirinya dari induknya begitu mereka cukup dewasa.Anak pipit yang belum dapat terbang selalu bercakap-cakap dan akhirnya berteman baik dengan biji pohon yang sedang tumbuh.” Ketika sayapku telah cukup kuat, maukah kamu menemaniku terbang mengelilingi dunia?”, tanya anak burung pipit. “Tentu saja, kita akan bersama-sama menjelajahi angkasa,terbang diatas awan”, kata si biji terbang dengan bersemangat.
Hari berganti hari, dan masa berlalu, si anak burung dan si biji terbang sudah siap untuk memulai perjalanannya. Segera setelah mereka merasa cukup kuat, mereka berdua terbang melayang, mengikuti hembusan angin, menjelajahi tempat-tempat indah diseluruh bumi.
“Lihat, bukankah itu menara Eifel yang terkenal?”, teriak si burung pipit ketika mereka sampai di Paris.” Wah, alangkah panjang dan kokohnya tembok besar itu!”, seru si biji terbang ketika mereka melintasi daratan Cina. Beberapa saat lamanya, mereka menjelajahi tempat-tempat indah dan agung di bumi, mereka senang bukan kepalang dan berjanji akan mengunjungi tempat-tempat lainnya bersama-sama.
Pada suatu hari, ketika mereka melewati sebuah padang hijau, tiba-tiba si biji bersayap berhenti dan semakin turun,”Oh, aku merasa sangat berat sobat, sayapku tak mampu lagi menahan beratku, sepertinya aku akan jatuh”, kata si biji bersayap dengan sedih.” Sobatku, masih banyak tempat yang akan kita kunjungi, kamu tidak ingin melihat tanah Catalan Barcelona? atau tidakkah kamu ingin melihat kota indah Venesia?”, kata si burung pipit dengan cemas. Tapi semakin lama, si biji terbang semakin rendah, kini ia sudah mendarat di padang hijau di pinggir sebuah sungai. ” Sobatku, maafkan aku, sepertinya aku tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan kita, lanjutkanlah perjalananmu tanpaku, sampaikan salamku pada angin Barcelona dan Venesia”, kata si biji terbang dengan suara bergetar.” Baiklah sobat, aku akan melanjutkan perjalanan, kiranya Tuhan memberkati engakau, sampai bertemu lagi”, kata burung pipit akhirnya.
Beberapa tahun kemudian, si burung pipit telah dewasa dan mempunyai pasangan, ia ingin membentuk keluarga. Ia dan pasangannya terbang mencari pohon yang akan dijadikannya sarang. Akhirnya, ditemukannyalah sebatang pohon muda dan rindang, dengan sukacita ia mulai membuat sarangnya disana. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara memanggilnya,”Apa kabar sobat?akhirnya kita bisa bertemu lagi”, Alangkah terkejutnya si burung pipit, ternyata yang memanggilnya adalah pohon itu. Seiring dengan berjalannya waktu, si biji terbang telah berubah menjadi pohon yang rindang dan indah, menjadi tempat dimana burung-burung dan binatang padang bersarang dan berlindung dibatang dan dahan-dahannya.