Burung Pipit dan Biji Terbang

June 10, 2009

Disebuah padang, satu keluarga burung pipit bersarang disebatang pohon besar dan rindang. Pohon itu adalah pohon yang menghasilkan sejenis biji bersayap yang akan melepaskan dirinya dari induknya begitu mereka cukup dewasa.Anak pipit yang belum dapat terbang selalu bercakap-cakap dan akhirnya berteman baik dengan biji pohon yang sedang tumbuh.” Ketika sayapku telah cukup kuat, maukah kamu menemaniku terbang mengelilingi dunia?”, tanya anak burung pipit. “Tentu saja, kita akan bersama-sama menjelajahi angkasa,terbang diatas awan”, kata si biji terbang dengan bersemangat.

Hari berganti hari, dan masa berlalu, si anak burung dan si biji terbang sudah siap untuk memulai perjalanannya. Segera setelah mereka merasa cukup kuat, mereka berdua terbang melayang, mengikuti hembusan angin, menjelajahi tempat-tempat indah diseluruh bumi.

“Lihat, bukankah itu menara Eifel yang terkenal?”, teriak si burung pipit ketika mereka sampai di Paris.” Wah, alangkah panjang dan kokohnya tembok besar itu!”, seru si biji terbang ketika mereka melintasi daratan Cina. Beberapa saat lamanya, mereka menjelajahi tempat-tempat indah dan agung di bumi, mereka senang bukan kepalang dan berjanji akan mengunjungi tempat-tempat lainnya bersama-sama.

Pada suatu hari, ketika mereka melewati sebuah padang hijau, tiba-tiba si biji bersayap berhenti dan semakin turun,”Oh, aku merasa sangat berat sobat, sayapku tak mampu lagi menahan beratku, sepertinya aku akan jatuh”, kata si biji bersayap dengan sedih.” Sobatku, masih banyak tempat yang akan kita kunjungi, kamu tidak ingin melihat tanah Catalan Barcelona? atau tidakkah kamu ingin melihat kota indah Venesia?”, kata si burung pipit dengan cemas. Tapi semakin lama, si biji terbang semakin rendah, kini ia sudah mendarat di padang hijau di pinggir sebuah sungai. ” Sobatku, maafkan aku, sepertinya aku tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan kita, lanjutkanlah perjalananmu tanpaku, sampaikan salamku pada angin Barcelona dan Venesia”, kata si biji terbang dengan suara bergetar.” Baiklah sobat, aku akan melanjutkan perjalanan, kiranya Tuhan memberkati engakau, sampai bertemu lagi”, kata burung pipit akhirnya.

Beberapa tahun kemudian, si burung pipit telah dewasa dan mempunyai pasangan, ia ingin membentuk keluarga. Ia dan pasangannya terbang mencari pohon yang akan dijadikannya sarang. Akhirnya, ditemukannyalah sebatang pohon muda dan rindang, dengan sukacita ia mulai membuat sarangnya disana. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara memanggilnya,”Apa kabar sobat?akhirnya kita bisa bertemu lagi”, Alangkah terkejutnya si burung pipit, ternyata yang memanggilnya adalah pohon itu. Seiring dengan berjalannya waktu, si biji terbang telah berubah menjadi pohon yang rindang dan indah, menjadi tempat dimana burung-burung dan binatang padang bersarang dan berlindung dibatang dan dahan-dahannya.

Asal Usul Sepatu

May 29, 2009

Seorang maharaja yang bodoh mengeluh karena jalan yang kasar
membuat kakinya sakit. Maka ia memerintahkan agar seluruh
negeri diberi alas kulit sapi.

Pegawai istana tertawa ketika raja menyampaikan perintah itu
kepadanya. “Yang Mulia, itu adalah suatu gagasan yang gila,”
serunya. “Mengapa harus mengeluarkan biaya yang sama sekali
tidak perlu? Potong saja dua alas kecil kulit sapi untuk
melindungi kaki Yang Mulia!”

Itulah yang dikerjakan oleh maharaja. Dan demikianlah lahir
gagasan mengenai sepatu.

Orang yang sudah mengalami penerangan batin tahu bahwa untuk
membuat dunia tempat yang bahagia. engkau perlu mengubah
hatimu – dan bukan dunia.

(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tinggalkan si “Aku”

May 29, 2009

Murid:

Aku datang untuk mengabdimu.

Guru:

Seandainya engkau melepaskan si ‘aku’, pengabdian akan terjadi dengan sendirinya.

Engkau dapat merelakan semua harta bendamu bagi kaum miskin dan bahkan merelakan dirimu dibakar, namun belum tentu engkau mempunyai cinta samasekali.

Simpanlah hartamu dan tinggalkan si ‘aku’. Jangan membakar tubuhmu, bakarlah ‘ego’mu! Cinta akan muncul dengan sendirinya.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Boneka Garam

May 29, 2009

Sebuah boneka garam berjalan beribu-ribu kilometer menjelajahi daratan, sampai akhirnya ia tiba di tepi laut.

Ia amat terpesona oleh pemandangan baru, massa yang bergerak-gerak, berbeda dengan segala sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.

‘Siapakah kau?’ tanya boneka garam kepada laut.

Sambil tersenyum laut menjawab:

‘Masuk dan lihatlah!’

Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut. Semakin jauh masuk ke dalam laut, ia semakin larut, sampai hanya tinggal segumpal kecil saja. Sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak bahagia: ‘Sekarang aku tahu, siapakah aku!’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Kucing sang Guru

May 29, 2009

Setiap kali guru siap untuk melakukan ibadat malam, kucing asrama mengeong-ngeong, sehingga mengganggu orang yang sedang berdoa. Maka ia menyuruh supaya kucing itu diikat selama ibadat malam.

Lama sesudah guru meninggal, kucing itu masih tetap diikat selama ibadat malam. Dan setelah kucing itu mati, dibawalah kucing baru ke asrama, untuk dapat diikat sebagaimana biasa terjadi selama ibadat malam.

Berabad-abad kemudian kitab-kitab tafsir penuh dengan tulisan ilmiah murid-murid sang guru, mengenai peranan penting seekor kucing dalam ibadat yang diatur sebagaimana mestinya.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Doa yang Memaksa

May 29, 2009

Inilah cerita yang sangat disukai oleh Guru Sufi Sa’di dari Shiraz:

Salah seorang sahabatku senang sekali karena isterinya mengandung. Ia ingin sekali mendapatkan anak laki-laki. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Tuhan dan menjanjikan berbagai kaul dengan ujud itu.

Maka terjadilah, bahwa isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Sahabatku bergembira sekali dan mengundang seluruh penduduk kampung untuk merayakan pesta syukur.

Bertahun-tahun kemudian, sekembaliku dari Mekah, aku melewati kampung sahabatku itu. Aku diberitahu bahwa ia dipenjara.

‘Mengapa? Apa kesalahannya?’ tanyaku.

Tetangganya berkata: ‘Anaknya mabuk, membunuh orang, kemudian melarikan diri. Maka ayahnya lalu ditangkap dan dipenjarakan.’

Meminta kepada Tuhan dengan tekun apa yang kita inginkan merupakan perbuatan yang patut dipuji.

Tetapi doa seperti itu juga amat berbahaya. Jauh lebik baik berdoa, dan serahkan keputusannya pada Tuhan.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Lihat di Dalam Matanya

May 29, 2009

Komandan tentara pendudukan berkata kepada kepala desa di pegunungan: ‘Kami yakin, kamu menyembunyikan seorang pengkhianat di kampungmu. Jika kamu tidak menyerahkannya kepada kami, dengan segala cara kami akan menyiksamu bersama dengan penduduk desamu.’

Kampung itu memang menyembunyikan seseorang yang tampaknya baik, tidak bersalah serta disayang semua orang. Tetapi apa daya kepala desa itu, kalau keselamatan seluruh kampungnya terancam?

Musyawarah berhari-hari di balai desa ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya, kepala desa membicarakan masalah itu dengan pemimpin agama di desa itu. Semalam suntuk mereka berdua mencari-cari pesan dalam kitab sucinya dan akhirnya menemukan pemecahan. Ada kalimat yang mengatakan: ‘Lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa.’

Maka kepala desa menyerahkan orang yang tidak bersalah itu kepada tentara pendudukan, sambil memohon supaya diampuni. Namun orang itu justru berkata bahwa bahwa tidak ada yang perlu dimohonkan ampun. Ia tidak ingin membahayakan desa. Maka ia pun disiksa dengan kejam, sampai-sampai teriakannya terdengar di seluruh desa. Akhirnya ia dibunuh.

Dua puluh tahun kemudian seorang nabi melewati desa itu dan langsung pergi menemui kepala desa. Katanya: ‘Apa yang telah engkau lakukan? Orang itu ditunjuk oleh Tuhan menjadi penyelamat negeri ini. Dan ia telah kau serahkan untuk disiksa dan dibunuh.’

‘Tidak ada jalan lain!’ kata kepala desa membela diri. ‘Pemuka agama ini bersama saya telah mencari pesan dalam Kitab Suci dan berbuat sesuai dengan pesan itu.’

‘Itulah kesalahanmu!’ kata sang nabi. ‘Engkau mencari-cari dalam Kitab Suci. Seharusnya engkau juga mencari jawaban dalam matanya.’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Penjelajah dan Petanya

May 29, 2009

Penjelajah itu pulang ke kampung halamannya. Penduduk ingin tahu segala sesuatu tentang sungai Amazone. Tetapi bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata perasaan yang memenuhi hatinya, ketika ia melihat bunga-bunga begitu indah memukau dan mendengar seribu satu suara penghuni rimba di waktu malam? Bagaimana menjelaskan perasaan hatinya, ketika menghadapi binatang buas atau ketika mendayung perahu kecilnya melewati arus sungai yang sangat berbahaya?

Ia berkata, ‘Pergi dan temukanlah sendiri! Tidak ada yang dapat menggantikan pertaruhan nyawa dan pengalaman pribadi.’ Namun sebagai pedoman bagi mereka, ia menggambarkan peta sungai Amazone.

Mereka berpegang pada peta itu. Peta itu dibingkai dan diletakkan di kantor kotapraja. Mereka masing-masing menyalin peta itu. Dan setiap orang yang mempunyai peta, menganggap dirinya seorang ahli tentang sungai Amazone. Sebab, bukankah ia tahu setiap kelokan dan pusaran sungai, berapa lebar dan dalamnya, di mana air mengalir deras dan di mana terdapat air terjun?

Penjelajah itu selama hidupnya menyesalkan peta yang telah dibuatnya. Mungkin lebih baik jika dulu dia tidak menggambarkan apa-apa.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Berhala Manusia

May 29, 2009

Seorang pertapa pulang dari pertapaanya. ‘Katakanlah, seperti apakah Tuhan itu!’ tanya orang-orang mendesak.

Tetapi bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata apa yang dialaminya dalam lubuk hatinya yang paling dalam? Mungkinkah mengungkapkan Yang Mahabesar dalam kata-kata manusiawi?

Akhirnya ia memberi mereka sebuah rumusan – begitu kurang tepat dan serampangan! – dengan harapan bahwa beberapa dari antara mereka mungkin akan tertarik untuk mencari sendiri apa yang dialaminya.

Mereka berpegang kuat pada rumusan itu. Mereka mengangkatnya menjadi naskah suci. Mereka memaksakannya kepada setiap orang sebagai kepercayaan suci. Mereka bersusah-payah menyebarkannya di negeri-negeri asing. Bahkan ada yang mengorbankan nyawanya demi rumusan itu.

Orang mistik itu pun menjadi sedih. Mungkin lebih baik, seandainya dulu dia tidak pernah berbicara.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Setan dan Temannya

May 29, 2009

Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

‘Apa yang ditemukan orang itu?’ tanya si teman.

‘Sekeping kebenaran,’ jawab setan.

‘Itu tidak merisaukanmu?’ tanya si teman.

‘Tidak,’ jawab setan. ‘Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.’

Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.